Perbedaan Waktu Keluarnya Kolostrum Pada Ibu Post Partum Dengan Tindakan Sectio Caesaria

Abstraksi:
Wanita yang menjalani operasi sectio caesaria juga merupakan pasien pasca bedah. Jika operasi sectio caesaria tidak direncanakan, maka hal tersebut dapat menimbulkan perasaan kecewa pada ibu yang mengakibatkan menyusui seringkali memiliki kepentingan khusus. Bila ada stres dari ibu yang menyusui maka akan terjadi suatu blokade dari refleks let down. Menyusui dengan segera sama pentingnya bagi ibu-ibu Post Sectio Caesaria sebagaimana ibu yang melahirkan normal. Tujuan penelitian ini mengkaji dan mengukur waktu pengeluaran kolostrum pada Ibu setelah operasi sectio caesaria dengan ibu setelah melahirkan normal. Dari 63 responden yang terdiri dari 30 pasien post partum normal, 33 pasien operasi sectio caesaria 3 pasien batal.Karakteristik responden yang berada pada area penelitian ini meliputi: Usia pendidikan, status graverda, sudah/belum pernah operasi sectio caesaria. Waktu keluarnya kolostrum menunjukkan adanya perbedaan pada ibu setelah operasi sectio caesaria dan melahirkan normal signifikansi yang di tunjukkan dengan nilai p = 0,002, di mana nilai p lebih kecil dari 0,05 sehingga hipotesis diterima.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Diawali dari kehamilan persalinan dan nifas merupakan bagian dari tahapan perkembangan seorang wanita. Kondisi yang baik ketika melewati tahapan pertama menjadi dasar untuk keberhasilan berikutnya. Seorang wanita dengan masa kehamilan yang di harapkan dan adaptif terhadap permasalahan yang muncul akan membawa kepada persalinan normal dan masa nifas yang menyenangkan juga. Berbeda dengan ibu hamil yang mengalami memiliki masalah fisik pada masa kehamilannya memungkinkan tahapan persalinan dan nifas berjalan kurang lancar bahkan memungkinkan tindakan operasi. Tindakan operasi persalinan biasa di lakukan adalah bedah Caesar.
Di negara maju frekuensi operasi sectio caesarea berkisar antara 1,5% sampai dengan 7% dari semua persalinan (Sarwono, 1999), 60% dengan spinal anestesi atau kombinasi anestesi spinal - epidural analgesic untuk mengurangi nyeri (Eltzching dkk,2003), 40% menggunakan general anestesi. Di negara berkembang seperti di Indonesia kejadian operasi sectio caesarea yang semakin banyak sudah bukan issue lagi, tetapi ada suatu indikator yang di jadikan patokan masyarakat. Dari data tahun 1975, di jaman operasi sectio caesarea masih jarang di lakukan, angka kematian ibu yang melahirkan sekitar 30 orang setiap 1.000 orang ibu yang melahirkan. Lewat keseriusan pemerintah untuk menekan angka kematian ibu terus di upayakan sehingga pada tahun 1996 mencanangkan "Gerakan Sayang Ibu" (GSI) dan mematok angka 2,25% dari semua persalinan sebagai target nasional untuk menurunkan angka kematian ibu pada akhir 1999 (Cindy dkk, 2005).
Anestesi merupakan penyebab ketiga yang paling umum dari kematian ibu di lnggris, lima sampai sepuluh kematian dalam setiap tahunnya secara langsung di akibatkan oleh perawatan di bawah standar. Sebagian besar kematian tersebut berhubungan dengan satu atau lebih hal - hal berikut ini : inhalasi kandungan perut hipoksia sekunder akibat kegagalan intubasi trakea, perawatan inadekuat dalam periode segera setelah lahir (Donald M.F. Gibb, 2000).
Di Boston Hospital, angka kematian ibu 0% dari 10.000 kasus persalinan operasi sectio caesarea, tetapi tetap merupakan resiko yang lebih besar dari pada persalinan pervaginam karena faktor indikasi (Fregeletto, 1980). Dalam perkembangan sekarang ini, resiko operasi sectio caesarea terhadap ibu semakin kecil karena kemampuan dasar perkembangan anestesologi dan perbaikan perawatan sebelum dan sesudah bedah, resiko terhadap bayi dapat di deteksi secara dini walaupun hypoxia masih menjadi resiko bagi bayi. Operasi sectio caesarea tidak dapat di lakukan tanpa tindakan anestesi. Bentuk anestesi yang lazim di lakukan adalah anestesi general dan anestesi spinal . (Martinus, 1997).
Setelah di lakukan tindakan operasi transabdominal, sasaran keperawatan di fokuskan pada ibu secara fisik melalui manajemen laktasi, ambulasi, perawatan kateter, perawatan luka dan kontrol fisik selama 7 hari (Manuaba,1998). Dorongan supaya ibu menyusui sesegera mungkin setelah melahirkan. Menyusui dengan segera sama pentingnya bagi ibu setelah sectio caesarea sebagaimana bagi ibu - ibu yang melahirkan pervaginem.
Berdasarkan data di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta, jumlah yang di lakukan tindakan operasi sectio caesarea tahun 2003 adalah 550 pasien terdiri dari 200 pasien dengan anestesi spinal dan 350 dengan anestesi general dan tahun 2004 sebanyak 600 pasien terdiri dari 200 pasien dengan anestesi spinal dan 400 pasien dengan anestesi general. Bulan Januari sampai Juli 2005 adalah 280 pasien terdiri dari 100 pasien dengan anestesi spinal dan 180 anestesi general. Secara umum, penggunaan narkotik tunggal akan di batasi pada masa setelah melahirkan untuk mengurangi nyeri melahirkan tidak akan mempengaruhi menyusui.
Pemberian Air Susu Ibu bergantung pada empat proses: File Selengkapnya.....

Sponsor

Pengikut