Perbedaan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Tentang Reproduksi Sehat Sebelum dan Sesudah Dilakukan Pendidikan Kesehatan Dengan Metode Ceramah Pada Maha...

Abstraksi:
Berdasarkan hasil baseline survei yang dilakukan BKKBN, Lembaga Demografi FE-UI, East West Center dan University of Hawai tahun 1999 yaitu sekitar 45% remaja tidak mengetahui informasi yang benar tentang proses kehamilan, hanya 42% yang mengetahui HIV/AIDS dan tidak lebih dari 24% yang memahami tentang infeksi penyakit menular seksual lainnya. Hasil survei diatas menunjukkan bahwa hampir sebagian remaja masih mempunyai pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang relatif kurang. Hal ini karena ada kaitannya dengan kurangnya informasi mengenai kesehatan reproduksi secara benar dan akurat. Tujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dan sikap remaja tentang reproduksi sehat sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan dengan metode ceramah.
Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian quasi eksperimen dengan rancangan one group pre test-post test design. Subjek penelitian 30 responden kemudian dilakukan pengukuran pre test dan post test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan antara hasil pre test dan post test dimana nilai rerata post test lebih tinggi dibandingkan nilai rerata pre test. Pengetahuan dengan nilai p<0,001 dan sikap dengan nilai p<0,001. Hal ini membuktikan penerimaan hipotesis lebih baik atau meningkat antara sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan reproduksi sehat. Kesimpulan: Penelitian ini ada perbedaan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap antara sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan reproduksi sehat.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan reproduksi merupakan bagian pokok dari kesehatan umum, tidak hanya sebagai cermin dari kesehatan masa anak-anak dan remaja tetapi juga mengatur tahap untuk sehat melebihi usia reproduksi. Kesehatan reproduksi juga merupakan cermin baiknya sistem reproduksi yang akan menghasilkan anak sebagai generasi penerus, dengan demikian sehatnya sistem reproduksi merupakan aset utama terbentuknya sumber daya manusia yang berkualitas (Lisnawati, 2003).
Remaja adalah anak yang ada pada masa peralihan diantara masa anak-anak dan dewasa, dimana mereka mengalami perubahan-perubahan yang cepat disegala bidang (Daradjat dalam Miqdad, 2000). Remaja seringkali merasa tabu untuk membicarakan masalah seksualitas dan kesehatan reproduksinya, akan tetapi karena faktor keingintahuannya mereka akan berusaha untuk mendapatkan informasi. Mereka akan mencari alternatif lain sebagai sumber informasi untuk memenuhi keingintahuannya seperti teman atau media informasi, audio visual maupun cetak karena mereka sering berpikir bahwa orang tua akan menolak membicarakan masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas (Yusuf, 2004).
Menurut Iskandar (1997), pengaruh informasi global (paparan media audio-visual) yang semakin mudah diakses akan memancing anak dan remaja untuk menghadapi kebiasaan tidak sehat seperti merokok, minum-minuman beralkohol, penyalahgunaan obat, perkelahian remaja. Awalnya kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal produktif, serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang beresiko tinggi, karena kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas, serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi termasuk kontrasepsi (Iskandar, 1997). Berdasarkan hasil baseline survei yang dilakukan BKKBN, Lembaga Demografi FE-UI, East West Center dan University of Hawai tahun 1999 yaitu sekitar 45% remaja tidak mengetahui informasi yang benar tentang proses kehamilan, hanya 42% yang mengetahui HIV/AIDS dan tidak lebih dari 24% yang memahami tentang infeksi penyakit menular seksual dan lainnya (Wulandari, 2004).
Sudardjat (2002), menyatakan wilayah DKI Jakarta dengan hasil penelitian 37% responden wanita tidak mengetahui fungsi organ reproduksi pria, 36% responden pria tidak mengetahui fungsi organ reproduksi wanita dan 34% tidak mengetahui tentang penyakit menular seksual dikarenakan mereka mendapatkan sumber informasi tentang kesehatan reproduksi dari televisi dan media massa. Hasil survei diatas menunjukkan sebagian besar remaja masih mempunyai pengetahuan yang relatif kurang tentang kesehatan reproduksi. Hal ini karena ada kaitannya dengan kurangnya informasi mengenai kesehatan reproduksi secara benar dan akurat (Sudardjat, 2002).
Pengetahuan tentang reproduksi sehat sangat diperlukan oleh remaja khususnya, sebagai bekal untuk mengisi kehidupan mereka kelak, sehingga perlu diadakan pendidikan kesehatan reproduksi sehat. Diharapkan perilaku seksual yang sehat dan bertanggung jawab merupakan tujuan dari perkembangan seksualitas remaja baik sehat secara fisik, psikologis dan sosial serta bertanggung jawab sehingga terhindar dari perilaku seksual yang menyimpang dan akhirnya berdampak pada resiko kesehatan reproduksi seperti kehamilan, penyakit menular seksual (Imran, 2000). Penelitian yang dilakukan Lisnawati (2003), bahwa pendidikan kesehatan melalui metode ceramah dapat meningkatkan pengetahuan tentang menstruasi.
Metode ceramah memiliki kelebihan disamping kekurangannya antara lain: banyak orang yang mendengarkan, bisa untuk semua kalangan, menghemat waktu, pendengar dapat bersikap kritis.
Studi pendahuluan yang dilakukan terhadap 20 mahasiswa UMS, bahwa masih ada mahasiswa yang kurang mengetahui tentang reproduksi sehat yang meliputi anatomi alat-alat reproduksi, proses kehamilan, dan penyakit menular seksual. Mereka mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi dari radio 45%, televisi 65%, media massa 80%, guru 65%, orang tua 25%, tetangga 20%, petugas kesehatan 20%, teman 55%, kakak/saudara 10% dan internet 40%. Melihat dari uraian diatas, maka penulis menerapkan metode ceramah untuk membedakan pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan reproduksi. File Selengkapnya.....

Sponsor

Pengikut